IMG-20190905-WA0143

Kamis, 05 September 2019. Komunitas Tari Sufi Mahasiswa Tasawuf dan Psikoterapi atau Kotamasa’i Iain Surakarta yang berada dibawah naungan Hmj Tasawuf dan Psikoterapi mengadakan agenda Ngobrol santai (ngobras) sebagai sarana pengenalan salah satu kegiatan jurusan Tasawuf Dan Psikoterapi. Kegiatan ini dilakukan di gedung Laboratorium lantai 3 Iain Surakarta. Saudara Fian selaku ketua Hmj Tasawuf memberikan sambutan sekaligus membuka acara tersebut. adapun pemateri dalam acara ini adalah saudara Ghozali sebagai salah satu pelatih Tari sufi Kotamasa’I dan seorang Mahasiswi TP semester 7 yakni saudari Aida.

Pertama, pemateri memaparkan sejarah singkat dari terbentuknya Tari Sufi. Dimana Tari Sufi sendiri berasal dari Turki dan didirikan oleh Maulana Jalaluddin Rumi. Tari Sufi memiliki berbagai sebutan lain diantaranya Tari whirling dervishes, Tari Sema, bahkan ada juga yang menyebutnya Tari kematian. Dalam setiap gerakannya memiliki makna yang mendalam seperti gerekan tangan yang menjadi isyarat bagaimana kita harus dapat menekan hawa nafsu, isyarat tangan kanan menengadah ke atas dan tangan kiri menelungkup kebawah menggambarkan bagaiman kita menerima rahmat dari tuhan dan menyebarkannya kea lam sekitar, putaran tari sufi yang berlawanan dengan arah jarum jam sebagai isyarat untuk menjauhi kehidupan dunia yang sementara, dan berbagai makna lainnya. Pakaian yang dipakai para penari tari sufi pun juga memiliki makna tersendiri. Salah satu contohnya, pakaian para penari sufi terdahulu pada awalnya berwarna putih, Baju berwarna putih adalah penggambaran kain kafan, dimana setiap manusia yang hidup pasti akan meninggal dan hanya menyisakan kain kafan yang dipakainya.

Kemudian, salah satu Mahasiswa Tp semester 1 menjadi partisipan untuk mencoba memeragakan sedikit bagaimana gerakan tari sufi. Saat ini ada yang menyebut Tari sufi dapat dijadikan sebagai Ibadah dan juga meditasi, hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya sang penari berputar sekaligus membaca bacaan dzikir didalam hatinya. Tari sufi juga menjadi salah satu cara untuk melatih ketenangan dan fokus karena itulah mengapa para penari tari sufi tidak merasa pusing walau harus berputar lama saat menari. Dalam pemaparan pemateri, hal yang membuat penari tidak merasa pusing karena penari tersebut telah merasa melebur dengan tariannya, dalam hal ini diibaratkan seperti orang yang terpana sehingga tidak merasakan hal – hal lain kecuali rasa nyaman dan tentram dalam tariannya.

By admintp

Laman Resmi Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *