Sukoharjo — Dalam rangka mempersiapkan perkuliahan semester gasal tahun akademik 2025/2026, program studi Tasawuf dan Psikoterapi mengadakan bimbingan akademik kepada para mahasiswa. Bimbingan akademik ini diadakan secara rutin dan kondisional, misalkan setiap semester dan setiap kali terdapat sejumlah permasalahan akademik yang perlu dipecahkan. Bimbingan akademik untuk menyambut semester gasal tahun akademik 2025/2026 diadakan pada Jumat (25/07) oleh masing-masing dosen pembimbing akademik.
Terdapat sejumlah poin penting yang disampaikan oleh para dosen pembimbing akademik. Pertama, para mahasiswa diminta untuk aktif di dalam mengikuti perkuliahan. Aktif di sini bisa dalam konteks di dalam kelas, misalkan aktif bertanya dan berdiskusi, maupun aktif dalam konteks di luar kelas, misalkan belajar mandiri dan mencari referensi yang mendukung. Kedua, para mahasiswa juga diminta untuk mempertahankan Indeks Prestasi agar stabil dalam tingkat cumlaude. Sebaliknya, para mahasiswa yang belum mampu cumlaude didorong untuk meningkatkan kualitas belajarnya. Para mahasiswa yang mampu diminta untuk membantu para mahasiswa yang mengalami kesulitan. Di sisi lain, para mahasiswa yang mengalami kesulitan juga didorong untuk tidak sungkan mencari bantuan, termasuk kepada dosen pembimbing akademik. Ketiga, para mahasiswa diminta untuk menjaga adab. Adab merupakan ciri khas dari program studi Tasawuf dan Psikoterapi. Adab juga menjadi poin penting untuk mendukung keberhasilan di masa mendatang. Salah satu bentuk adab adalah perilaku baik setiap berinteraksi, disiplin, dan dapat dipercaya. Keempat, para mahasiswa semester lima diminta untuk mulai menabung karena kebutuhan untuk semester tujuh akan meningkat, seperti kebutuhan untuk mengikuti PPL, KKL, KKN, dan skripsi.
Kelima, para mahasiswa juga didorong untuk mempersiapkan skripsi sedini mungkin. Salah satunya adalah dengan mengerjakan tugas secara sungguh-sungguh, belajar menulis, belajar membaca artikel ilmiah, mempelajari skripsi-skripsi, dan menguasai mata kuliah metode penelitian serta mata kuliah yang mendukung. Keenam, para mahasiswa diminta untuk membentuk dukungan yang kuat antar sesama sehingga jika ada mahasiswa yang kesulitan, para mahasiswa hendaknya membantunya. Selain itu, para mahasiswa diminta waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan. Ketujuh, para mahasiswa diminta untuk membentuk resiliensi akademik yang kuat. Para mahasiswa diminta menjaga kesehatan mental mereka. Andaikan terdapat mahasiswa yang memiliki permasalahan mental diminta untuk tidak sungkan mengkomunikasikannya kepada dosen pembimbing akademik dan akan dibantu mengakses bantuan profesional. Kedelapan, para mahasiswa didorong untuk meningkatkan keaktifannya di dalam mengikuti kompetisi, baik yang bersifat akademik maupun nonakademik, baik di tingkat regional maupun nasional.
(Red & Ed: Ayatullah Kutub Hardew, Foto: AS)
