Pekalongan — Rabu – Jumat (22-24/07) Pengurus Pusat Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi Indonesia (PP Kotaterapi) mengadakan acara musyawarah nasional dan The 1st International Conference on Sufism and Psychotherapy (ICSP) 2026. Acara tersebut diadakan di hotel Dafam Pekalongan dengan UIN KH. Abdurrahman Wahid sebagai tuan rumah. Untuk acara The 1st International Conference on Sufism and Psychotherapy (ICSP) 2026, dilaksanakan pada Kamis (23/07) mulai pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB di ruang ballroom hotel Dafam Pekalongan, yang disusul dengan presentasi paper ilmiah mulai pukul 15.30 WIB sampai 17.00 WIB. Bertindak sebagai narasumber pada acara tersebut adalah Hj. Tuty bin Isa (Malaysia) yang merupakan representasi dari Yayasan Ma’rifat Sedunia (YAMAS) Indonesia dan Mustamir Pedak (Indonesia ) yang merupakan pendiri Asosiasi Praktisi dan Pemerhati Tasawuf Indonesia dan praktisi sufi healing.

Dalam materinya, Hj. Tuty bin Isa (Malaysia) mengawalinya pemaparannya tentang tantangan generasi muda di era teknologi saat ini. Meski memiliki dampak positif, teknologi juga rentang menyebabkan terjadinya dampak negatif, salah satunya gangguan psikologis dan spiritual serta kehilangan makna. Menurutnya, tasawuf bisa menjadi salah satu solusi, baik sebagai langkah preventif maupun kuratif. Konsep-konsep tasawuf dibumikan dan dipraktikkan untuk mencegah di satu waktu dan mengobati di lain waktu permasalahan-permasalahan mental dan spiritual, khususnya yang disebabkan oleh respons terhadap cepatnya dinamika kehidupan saat ini dan respons terhadap kecanggihan teknologi.

Narasumber berikutnya, Mustamir Pedak, menjelaskan materi yang berbeda. Mustamir menjelaskan posisi tasawuf dan psikoterapi sebagai ilmu pengetahuan di antara psikologi, kedokteran modern, konseling, dan kedokteran timur. Menurutnya, tasawuf dan psikoterapi jangan terjebak pada bidang-bidang tersebut dan harus memiliki jati diri tersendiri. Adapun bidang-bidang lain dapat dijadikan sarana integrasi dan jembatan agar masyarakat lebih mudah mengenal dan menerima praktik penyembuhan dengan tasawuf mengingat masyarakat masih banyak yang awam tentang tasawuf. Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa tasawuf yang diajarkan di perguruan tinggi hendaknya dapat dipahami, diajarkan, dan diilmiahkan. Jangan sampai perguruan tinggi mengajarkan tasawuf yang bersifat hudluri karena itu tidak dapat diperhitungkan (bukan diragukan). Tasawuf yang bersifat hudluri harus tetap berada di ranah tarekat dan pesantren. Mustamir kemudian menjelaskan berbagai kasus yang pernah ditanganinya dan prosedur penyembuhan cara tasawuf yang dilakukannya sebagai gambaran bagi para peserta konferensi.

Dua dosen sebagai delegasi Tasawuf dan Psikoterapi UIN Raden Mas Said Surakarta, Ayatullah Kutub Hardew, M.Psi., Psikolog dan Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog, menganggap kedua materi tersebut sangat relevan. Materi dari Hj. Tuty bin Isa (Malaysia) menjadi gambaran bahwa tasawuf selalu menemukan relevansinya di setiap zaman. Sedangkan, materi dari Mustamir Pedak (Indonesia) bisa menjadi salah satu acuan penting dan sebagai dasar untuk pendirian pendidikan profesi Tasawuf dan Psikoterapi serta bidang karier tasawuf dan psikoterapi di Indonesia.

(Red: Ayatullah)

By admintp

Laman Resmi Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *