Surakarta — Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta merupakan salah satu program studi yang berkomitmen untuk menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat. Salah satu bentuk dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah Penguatan Mutu Berbasis Program Studi dengan tema “Strategi Tasawuf sebagai Psikoterapi dalam Menghadapi Kecemasan Masa Depan”. Program pengabdian tersebut diadakan pada Senin (21/07) di SMA Al-Muayyad yang beralamatkan di Jalan K.H Samanhudi, Purwosari, Laweyan, Kota Surakarta dan diikuti oleh 40 siswa kelas XII.
Tim pengabdian yang beranggotakan Dr. Nurisman, M.Ag., Ayatullah Kutub Hardew, M.Psi., Psikolog, dan Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog yang berkolaborasi dengan mahasiswa, Muhammad Sirojuddin Zuhdi, disambut oleh Kepala SMA Al-Muayyad, Drs. Suranto, beserta para guru. Dalam sambutannya, Drs. Suranto menjelaskan bahwa kelas XII adalah masa-masa yang krusial karena siswa dihadapkan pada banyak pilihan, misalkan melanjutkan studi ke universitas sehingga harus memilih program studi yang sesuai atau bekerja sehingga harus memilih bidang karier yang relevan. Dengan demikian, banyak siswa yang mengalami kecemasan. Masa yang krusial ini diharapkan tidak terlewatkan begitu saja tanpa antisipasi. Sehingga, Drs. Suranto mendukung penuh acara pengabdian tersebut sebagai salah satu upaya untuk membantu siswa di dalam menghadapi kecemasan tersebut.
Pada acara inti, Ayatullah Kutub Hardew, M.Psi., Psikolog memberikan penjelasan tentang definisi kecemasan masa depan beserta faktor dan indikatornya. Ayatullah Kutub Hardew kemudian melanjutkan bahwa pemhamana terhadap indikator kecemasan masa depan berperan penting untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang gangguan tersebut sehingga siswa diharapkan dapat memiliki kesadaran tinggi untuk deteksi dini. Di sisi lain, faktor penyebab seperti ketidakpastian kondisi ekonomi, pengaruh media sosial, trauma masa lalu, dan perbandingan sosial juga perlu dipahami agar siswa dapat meminimalisasi kemungkinan terpaparnya faktor-faktor tersebut. Salah satu faktor penyebab kecemasan masa depan adalah lemahnya spiritualitas. Di dalam dunia Islam, spiritualitas sering kali dikaitkan dengan tasawuf. Oleh karena itu, tasawuf dapat menjadi salah satu bentuk strategi untuk menghadapi kecemasan masa depan.


Selanjutnya, Ahmad Saifuddin, M.Psi., Psikolog menjelaskan tentang tasawuf secara umum dan konsep-konsep yang relevan untuk menghadapi kecemasan masa depan. Misalkan, zikir yang dilakukan dengan penghayatan yang tinggi akan mampu meredam kecemasan masa depan karena di dalam zikir seseorang akan selalu mengingat Allah swt bahwa Allah swt telah mempersiapkan semua masa depan untuk semua makhluk-Nya. Konsep lainnya adalah tawakal karena dengan tawakal, seseorang dapat memasrahkan hal-hal yang tidak dapat dikendalikannya kepada Allah swt, termasuk masa depan, sehingga beban psikologisnya menjadi berkurang. Mujahadah juga penting untuk dilatih agar kecemasan masa depan dapat teratasi karena mujahadah mengajarkan bersungguh-sungguh. Dengan melakukan peran saat ini dengan sungguh-sungguh, maka peluang masa depan yang baik juga akan semakin besar sehingga kecemasan dapat berkurang. Di samping mujahadah, sabar juga perlu diasah agar seseorang mampu bertahan di kondisi yang tidak pasti selama berikhtiar untuk masa depan.
Acara pengabdian yang dimulai pada pukul 12.00 WIB tersebut berakhir pada pukul 13.15 WIB. Para siswa mengaku senang mendapatkan pengetahuan baru karena materi yang diberikan sangat berkaitan dengan kondisi psikologis mereka.
(Red: Ayatullah, Foto: Siroj)
