(Dr. Hamdan Maghribi, M.Phil. — Dosen Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta)
Pendahuluan
Dalam sejarah panjang Islam, tasawuf sering dipandang sebagai jalur sunyi para pencari Tuhan. Namun, dalam konteks dunia pasca-klasik Islam, ia tidak berjalan sendirian, melainkan berdampingan -dan kadang berbenturan- dengan ortodoksi dan legalisme ulama. Salah satu titik temu yang jarang ditelusuri secara mendalam adalah pertemuan antara tasawuf dan tradisionalisme Ḥanbalī, khususnya dalam circle (lingkaran) Ibn Taimiyyah. Di sinilah kita menjumpai sosok Aḥmad al-Wāsiṭī, seorang sufi yang menapaki jalan spiritual melalui kacamata tradisionalisme yang ketat. Esai ini menggambarkan singkat biografi dan pemikiran al-Wāsiṭī, sahabat sekaligus murid Ibn Taimiyyah yang juga seorang sufi ternama di Damaskus dari buku The Journey of Taymiyyan Sufi karya Arjan Post.
The Taymiyyan Sufi
Buku The Journey of Taymiyyan Sufi karya Arjan Post menawarkan narasi segar bahwa tasawuf tidak selalu identik dengan laku spiritual yang antinomian, panteistik, atau berpijak pada pengalaman ekstatis semata. Melalui sosok al-Wāsiṭī, Arjan Post mengurai lapisan-lapisan tasawuf yang bersandar pada hadis, fiqh, dan akidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, tasawuf yang selaras dengan aspirasi pemurnian Islam yang diusung Ibn Taimiyyah.(Post, 2020b)
Al-Wāsiṭī merupakan tokoh unik yang lahir dari jalur tarekat Rifā‘iyyah, kemudian bertransformasi melalui kontak dengan Syāẓīliyyah Aleksandria, dan akhirnya berlabuh dalam lingkaran (circle) Ibn Taimiyyah di Damaskus. Transformasi ini bukan sekadar perubahan tarekat, melainkan revolusi spiritual yang mendalam, sebuah pencarian jalan kebenaran yang disaring melalui kritik atas kesesatan dan penyimpangan sufi kontemporer pada zamannya.(Post & Van Eyken, 2024)
Fisikal dan Spiritual
Struktur buku ini dibagi menjadi dua bagian besar: al-Riḥlah (perjalanan fisik) dan al-Sulūk (perjalanan spiritual). Al-Wāsiṭī secara harfiah mengembara dari Irak ke Mesir dan akhirnya ke Suriah. Namun, Post menunjukkan bahwa perjalanan ini bukan sekadar kembara geografis, melainkan transformasi ideologis dan spiritual.(Post, 2020a)
Di Wāsiṭ, ia menyaksikan kebobrokan sebagian penganut Rifā‘iyyah yang dirasakannya penuh dengan bid‘ah dan penyimpangan. Ia lalu mengunjungi Mesir, pusat intelektual tarekat Syāẓiliyyah, namun kemudian mengalami disonansi antara spiritualitas dan penyimpangan metafisik yang menjurus pada ittihād dan ḥulūl. Hasilnya adalah sebuah kesadaran, kebenaran harus berpijak pada wahyu dan sunnah, bukan pada pengalaman personal semata.(Post, 2020a)
Tasawuf dan Salafi: al-Ṭarīqah al-Muḥammadiyyah
Dalam bagian kedua, al-Wāsiṭī menyusun kerangka tasawuf berdasarkan al-Ṭarīqah al-Muḥammadiyyah (jalan kenabian). Ia menghindari istilah-istilah yang condong kepada panteisme atau spekulasi filosofis. Inti dari tasawuf, menurutnya, adalah taḥqīq al-ʿubūdiyyah (realitas kehambaan), bukan pengalaman ilhām atau ekstase (sakr).(Al-Wāsiṭī, 2005)
Al-Wāsiṭī menekankan pentingnya mengenal Allah (ma‘rifah) dengan cara yang sesuai syariat, yaitu melalui pemahaman tentang sifat-sifat Allah yang tidak boleh ditakwil berlebihan. Dalam hal ini, ia mengkritik pendekatan kalām (teologi spekulatif) dan filsafat, serta menghindari ajaran-ajaran waḥdah al-wujūd ala Ibn ‘Arabī yang dianggapnya sebagai penyimpangan.(Al-Wāsiṭī, n.d.)
Ma‘rifah dan Musyahadah
Al-Wāsiṭī tidak menolak ma‘rifah sebagai inti dari jalan sufi, namun ia membingkainya dalam struktur ortodoksi. Ma‘rifah bukan hasil dari iluminasi personal, tetapi dari perenungan terhadap nama dan sifat Allah sebagaimana ditetapkan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Proses ini berujung pada musyāhadah (kesaksian), yaitu pengalaman batin tentang kehadiran Allah, namun tetap dalam bingkai tauhid yang tidak menghapus perbedaan antara Khāliq (pencipta)dan makhlūq (yang dicipta).
Tartīb al-masyāhid (tingkatan kesaksian hati) yang digambarkan al-Wāsiṭī: dimulai dari masyhad al-ilāhiyyah (kesaksian ketuhanan), al-rubūbiyyah (kesaksian ke-Tuhan-an sebagai pengatur), hingga al-jam‘ wa al-fardāniyyah (kesatuan dan keunikan mutlak Allah). Namun semuanya dijaga dari jebakan ittihād atau ḥulūl.
Salah satu kontribusi penting al-Wāsiṭī adalah kritik tajamnya terhadap upaya rasionalisasi yang dilakukan oleh mutakallimūn dan filsuf. Dalam hal ini, ia sejalan dengan Ibn Taimiyyah yang menolak pendekatan teologi (kalām) spekulatif. Bagi mereka, ketuhanan bukan untuk diperdebatkan secara rasional, melainkan untuk diyakini melalui wahyu.
Al-Wāsiṭī juga mengecam samā‘ (praktik mendengarkan musik sufi) yang menurutnya membuka pintu bagi penyimpangan emosional dan psikologis yang tidak terkontrol. Ia menegaskan bahwa jalan tasawuf sejati adalah jalan ilmu, adab, dan kesungguhan dalam ibadah, bukan sekadar perasaan spiritual.(Post & Van Eyken, 2024)
Ibn Taimiyyah dan al-Wāsiṭī: Persaudaraan Spiritual dan Intelektual
Yang paling menggugah dari kisah al-Wāsiṭī adalah relasi spiritual dan intelektual antara dirinya dan Ibn Taimiyyah. Meskipun Ibn Taimiyyah sering digambarkan sebagai anti-Sufi, banyak penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa ia justru menerima bentuk tasawuf tertentu, yakni yang mengakar pada wahyu, syariat, dan adab kenabian.(Al-Wāsiṭī, 2007; Post, 2020a)
Al-Wāsiṭī menjadi representasi nyata dari bentuk tasawuf yang diterima oleh Ibn Taimiyyah. Ia bahkan disebut sebagai syaikh al-taṣawwuf dalam lingkaran Damaskus. Ini membuktikan bahwa konflik antara tasawuf dan ortodoksi tidak bersifat inheren, melainkan tergantung pada bagaimana tasawuf itu diformulasikan.(Post & Van Eyken, 2024)
Tasawuf dan Tajdīd
Buku ini mengajak kita untuk melihat bahwa tajdīd (pembaharuan Islam) bukanlah lawan dari tasawuf. Sebaliknya, tasawuf yang berakar pada sumber otentik Islam bisa menjadi bagian integral dari gerakan pemurnian. Al-Wāsiṭī membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi sufi sekaligus reformis; menyucikan tasawuf dari penyimpangan, dan membawanya kembali kepada ruh kenabian. Tak heran bila Fazlur Raham menyampaikan, bilasaja umat Muslim mengadopsi dan mengadapsi tasawuf ala Ibn Taimiyyah (Rahman menyebutnya dengan Neo-Sufism) tentunya sejarah Muslim akan berbeda dan lebih baik dari saat ini.(Rahman, 1979)
Dalam konteks Indonesia, pemikiran semacam ini sangat relevan. Kita sering dihadapkan pada dikotomi palsu antara ulama dan sufi, antara salafi dan tradisi. Padahal sejarah membuktikan bahwa tokoh seperti al-Wāsiṭī dan Ibn Taimiyyah menjembatani dua kutub ini dalam satu visi, kembali kepada Islam yang murni, mendalam, dan filosofi iḥsān yang penuh arti.
Penutup
Al-Wāsiṭī adalah sufi unik dan ‘langka’ yang berhasil menghubungkan dua dunia yang sering disalahpahami berlawanan dan bertentangan. Ia menunjukkan bahwa menjadi sufi tidak harus meninggalkan syariat. Menjadi sālik tidak berarti meninggalkan nalar, asalkan akal tunduk pada wahyu. Jalan sufi Ibn Taimiyyah bukan sekedar kompromi, melainkan jalan harmonisasi antara żikr dan fikr, antara khauf dan rajā’, antara ʿilm dan ḥāl. al-Wāsiṭī adalah simbol dan panggilan untuk kembali menempuh jalan kenabian dengan keikhlasan, kesadaran, dan keberanian intelektual.
Bahan Bacaan
Al-Wāsiṭī, ‘Imād al-Dīn. (n.d.). Qawā‘id fī al-Sulūk ilā Allāh Ta‘ālā aw al-Siyar ‘alā al-Minhāj min Kalām al-Imām al-‘Ārif ‘Imād al-Dīn al-Wāsiṭī (M. ibn ‘Abd A. Aḥmad (ed.)). Dār al-Basyā’ir al-Islāmiyyah.
Al-Wāsiṭī, ‘Imād al-Dīn. (2005). Riḥlah al-Imām Ibn Syaikh al-Ḥizāmain min al-Taṣawwuf al-Munḥarif ilā Taṣawwuf Ahl al-Ḥadīṡ wa al-Aṡar (M. ibn ‘Abd A. Aḥmad (ed.)). Dār al-Basyā’ir al-Islāmiyyah.
Al-Wāsiṭī, ‘Imād al-Dīn. (2007). Al-Tażkirah wa al-I‘tibār wa al-Intiṣār li al-Abrār fī Manāqib Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah (‘Adnān Abū Zaid (ed.)). Dār Nawādir.
Post, A. (2020a). The Journeys of a Taymiyyan Sufi: Sufism through the Eyes of ʿImād al-Dīn Aḥmad al-Wāsiṭī. Brill.
Post, A. (2020b). The Journeys of a Taymiyyan Sufi. Brill.
Post, A., & Van Eyken, S. (2024). Ibn Taymiyya and His Circle on samāʿ: a Means to Purify Sufism? (with an Arabic Edition of al-Wāsiṭī’s (d. 711/1311) Bulgha). Islamic Law and Society, 1–41. https://doi.org/https://doi.org/10.1163/15685195-bja10051
Rahman, F. (1979). Islam. The University of Chicago Press.
