(Dr. Hamdan Maghribi, M.Phil. — Dosen Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta)
Pendahuluan
Di tengah dinamika spiritualitas Islam abad ke-13, muncul seorang sufi besar dari Iskandariyah, Mesir, yang karyanya abadi hingga kini, Ibn ‘Aṭā’ Allāh al-Iskandarī. Ia bukan hanya seorang pewaris ajaran Syāżiliyyah, tapi juga penerus estafet intelektual dan spiritual yang merangkul dimensi terdalam ajaran Islam; tauḥīd, adab, dan kesadaran eksistensial. Esai sederhana ini adalah upaya untuk menampilkan pembacaan terhadap pemikiran Ibn ‘Aṭā’ Allāh, sekaligus menjadi kritik atas pendekatan akademik Barat yang kerap mereduksi tasawuf ke dalam bingkai mistisisme yang terpisah dari Islam.
Tasawuf: Jalan Spiritual Islam, Bukan Adopsi dari Luar
Label “mistisisme Islam” (Islamic mysticism) yang kerap disematkan pada tasawuf memiliki makna yang problematis. Istilah ini, bukan hanya membingungkan tapi juga menyesatkan. Tasawuf bukan sekadar dimensi batin dalam Islam, melainkan cara pandang menyeluruh terhadap eksistensi dan realitas Ilahi. Cook dalam buku (dari disertasi) Ibn ‘Atā Allāh mengkritik pandangan-pandangan orientalis yang menceraikan tasawuf dari akar al-Qur’an dan Sunnah, Cook menegaskan bahwa studi tasawuf tidak dapat dilakukan dengan bingkai epistemik Barat. Karena faktanya, tasawuf bukanlah sinkretisme, tapi ekspresi terdalam dari tauhid Islam.(Cook, 2017)
Ibn ‘Aṭā’ Allāh dan Warisan Syāżiliyyah
Ibn ‘Aṭā’ Allāh adalah figur sentral dalam pengembangan tarekat Syāżiliyyah. Ia meneruskan ajaran spiritual Abū al-Ḥasan al-Syāżilī dan Abū al-‘Abbās al-Mursī, dua tokoh besar sufi Maghrib-Mesir yang menekankan pentingnya integrasi antara syariat dan hakikat. Lewat karya terkenalnya al-Ḥikam al-‘Aṭa’iyyah,(Al-Iskandarī, 2019) Ibn ‘Aṭā’ Allāh menyajikan ratusan aforisme yang mengandung kedalaman makna tentang tauhid, takdir, amal, sabar, dan rizq.(Jackson, 2012) Cook dengan piawai menjadikan “rizq” (provisi atau rezeki) sebagai pintu masuk untuk membaca keseluruhan bangunan pemikiran Ibn ‘Aṭā’ Allāh.(Cook, 2017)
Rizq dan Kesadaran Metafisika
Bagi Ibn ‘Aṭā’ Allāh, persoalan rizq bukan sekadar soal ekonomi atau keberuntungan, tetapi merupakan bagian dari skema metafisika tauhid. Dalam pandangan tauhidik yang mendalam, Allah adalah satu-satunya pemberi, dan semua bentuk keterikatan terhadap sebab-sebab duniawi adalah bentuk pengingkaran terhadap hakikat ini. Maka, ketergantungan kepada Allah -bukan kepada makhluk- adalah fondasi spiritual yang sejati. Aforisme Ibn ‘Aṭā’ Allāh bukanlah renungan semata, tapi bentuk praksis tauhid dalam dunia nyata, khususnya dalam menghadapi ketakutan terhadap kekurangan.(Cook, 2017)
Ontologi Faqr: Ketiadaan Diri dan Ketergantungan Penuh kepada Tuhan
Menurut Ibn ‘Aṭā Allāh, Konsep faqr atau kemiskinan eksistensial bukan soal harta benda, melainkan kesadaran bahwa makhluk pada hakikatnya tidak memiliki eksistensi independen. Hanya Allah yang Maha Wujūd; semua yang selain-Nya bersifat contingent (bergantung). Dalam kerangka ini, keinginan untuk mengatur hidup sendiri (tadbīr) adalah bentuk pengkhianatan terhadap tauhid. Karenanya, ridha kepada ketentuan Allah adalah manifestasi tertinggi dari pemahaman ontologis ini.(Al-Iskandarī, 2019; Cook, 2017)
Menurutnya, Pengetahuan dalam Islam bukan sekadar akumulasi informasi, tapi pencerahan yang membawa kepada pengenalan diri dan Tuhan. Ibn ‘Aṭā’ Allāh menyampaikan bahwa jalan menuju makrifat adalah melalui introspeksi dan pembersihan jiwa (tazkiyah al-nafs). Pengetahuan tentang rizq tidak cukup hanya lewat teori, tapi mesti dihayati sebagai manifestasi cinta dan kemurahan Allah. Epistemologi Ibn ‘Aṭā’ Allāh menolak otonomi akal yang terpisah dari hati; pengetahuan yang hakiki lahir dari kejernihan batin.(Cook, 2017; Jackson, 2012)
Antara Dunia dan Akhirat
Salah satu aspek menarik dari pemikiran Ibn ‘Aṭā Allāh adalah ketika ia membahas tentang akhirat. Rizq, dalam kerangka ini, melampaui dunia materi. Setiap pemberian Allah, termasuk rasa syukur dan kesabaran, adalah bentuk rizq yang mempersiapkan manusia untuk kehidupan abadi. Kekhawatiran tentang dunia, jika tidak dikendalikan, justru bisa menghalangi perjalanan spiritual. Maka, Ibn ‘Aṭā’ Allāh mengajarkan untuk tidak menolak dunia, tapi menjadikan dunia sebagai ladang menuju akhirat.(Al-Iskandarī, 1973, 2019; Cook, 2017)
Dalam kerangka etik, Ibn ‘Aṭā’ Allāh sangat menekankan pentingnya adab (etika perilaku) dalam berhubungan dengan Allah, manusia, dan alam. Adab bukan hanya tata krama, tapi manifestasi dari penghayatan terhadap tauhid. Adab terhadap rizq, misalnya, adalah tidak serakah, tidak mengeluh, dan tidak menyalahkan. Adab inilah yang membentuk kesatuan antara ilmu dan amal, antara hati dan tindakan. Dalam kehidupan sufi, adab lebih tinggi daripada ilmu, karena ia buah dari kesadaran dan cinta.
Ibn ‘Aṭā’ Allāh dan Ibn Taimiyyah: Dua Arah Jalan Islam
Salah satu hal yang menarik dalam catatan sejarah Ibn ‘Aṭā Allāh adalah pembahasan tentang hubungannya dengan Ibn Taimiyyah.(Al-‘Imrān, 2019; Yāsīn, 2018) Keduanya hidup sezaman, dan Ibn Taimiyyah dikenal sebagai pengkritik keras terhadap banyak praktik sufi. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Ibn ‘Aṭā’ Allāh adalah representasi tasawuf Sunni yang ortodoks, bukan pembela inovasi. Ia memegang kuat prinsip syariat, berdiri dalam koridor Sunni, dan tidak menoleransi penyimpangan akidah. Pertentangan keduanya bukan pada inti Islam, tapi pada pendekatan spiritual dan ekspresi keagamaan.(Cook, 2017; Maghribi, 2024)
Tasawuf Sebagai Jalan Hidup
Apa yang bisa kita pelajari dari Ibn ‘Aṭā’ Allāh hari ini? Banyak. Di tengah kecemasan hidup modern dan nestapa manusianya, ketakutan akan masa depan, dan keterasingan batin, warisan Ibn ‘Aṭā’ Allāh menawarkan peta jalan menuju ketenangan. Ia mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya doktrin, tapi cara pandang, cara merasa, dan cara bertindak. Ia memulihkan nilai tawakkal, ṣabr, syukr, dan riḍā sebagai fondasi kehidupan. Dengan merenungi al-Ḥikam, kita didorong untuk menata ulang cara kita bekerja, berharap, dan berdoa.
Dengan menjadikan rizq sebagai kunci pembacaan, kita bisa melihat bahwa Ibn ‘Aṭā’ Allāh bukan hanya sufi-penyair, tapi pemikir mendalam yang mampu menyatukan metafisika, etika, dan praksis dalam satu bangunan spiritual yang utuh. Warisan Ibn ‘Aṭā’ Allāh tetap relevan hingga kini. Ia mengajarkan bahwa Islam adalah agama keterhubungan; antara pencipta dan makhluk, antara ilmu dan amal, antara dunia dan akhirat. Dalam dunia yang penuh keterputusan, suaranya menjadi pengingat bahwa semua yang kita cari di luar, sesungguhnya berakar di dalam; dalam hati yang berserah, dalam akal yang tunduk, dan dalam jiwa yang sadar bahwa segala sesuatu adalah pemberian dari Tuhan.
Bahan Bacaan
Al-‘Imrān, ‘Alī ibn Muḥammad. (2019). Al-Jāmi’ li Sīrah Syaikh al-Islām ibn Taimiyyah (661-728) Khilāl Sab’a Qurūn (M. ‘Uzair Syams & ‘Alī ibn Muḥammad Al-‘Imrān (eds.)). Dār ‘Aṭā’āt al-‘Ilm.
Al-Iskandarī, I. ‘Aṭā A. (1973). Ṣūfī Aphorisms (Kitāb al-Ḥikam) (V. Danner (trans.)). Brill.
Al-Iskandarī, I. ‘Aṭā A. (2019). Al-Ḥikam. Rene Turos.
Cook, A. B. S. (2017). Ibn ‘Aṭā’ Allāh: Muslim Sufi Saint and Gift of Heaven. Cambridge Scholars Publishing.
Jackson, S. A. (2012). Sufism for Non-Sufis?: Ibn’Ata’Allah al-Sakandari’s Taj al-’Arus. Oxford University Press.
Maghribi, H. (2024). Tasawuf Salafi: Rekonstruksi Tasawuf Ibn Taimiyyah. Madani.
Yāsīn, M. B. (2018). Miḥnah Ibn Taimiyyah: al-Tadāfu‘ al-‘Aqadī fi Ẓurūf al-Siyāsah wa al-Qaḍā’ wa al-Mujtama‘ al-Mamlūkī. Markaz Tafakkur li al-Buḥūṡ wa al-Dirāsāt.
