(Dr. Hamdan Maghribi, M.Phil. — Dosen Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta)

Wilayah Khurasan dalam sejarah Islam dikenal sebagai tanah kelahiran para cendekiawan, ulama, dan sufi besar. Di sana hidup tokoh-tokoh seperti al-Ghazzālī dan Abū Yazīd al-Bisṭāmī. Namun di antara permata Khurasan, nama ‘Abdullāh al-Anṣārī al-Harawī (1006–1089 M) menempati posisi unik. Ia adalah seorang sufi dari mazhab Hanbali, penyair spiritual, penulis Munājāt, dan penyusun karya klasik Manāzil al-Sā’irīn (Al-Harawī 1988), yang menjadi rujukan utama dalam literatur tasawuf klasik.

Dalam konteks tasawuf yang berkembang pada abad ke-11, al-Anṣārī menunjukkan bahwa spiritualitas Islam tidak hanya milik kalangan yang condong pada filsafat atau kalam, tetapi juga dapat dipadukan secara harmonis dengan komitmen ‘tekstual’, sebagaimana yang diwarisi dari mazhab Hanbali. Ia menjadi sosok penting dalam menampilkan wajah tasawuf yang setia pada sunnah dan syariat, namun tetap mendalam dalam makna spiritual.

Biografi
‘Abdullāh al-Anṣārī lahir di kota Herat pada tahun 1006 M, dari keluarga yang terhormat. Ia termasuk dalam keturunan Abū Ayyūb al-Anṣārī, sahabat Nabi yang mulia, sehingga ia mendapat julukan “Shaikh al-Islām al-Anṣārī.” Pendidikan keagamaannya berlangsung dalam lingkungan yang kental dengan tradisi Hanbali. Meskipun mazhab ini minoritas di wilayah Khurasan yang didominasi Syāfi‘iyyah dan Ḥanafiyyah, al-Anṣārī teguh dalam komitmennya terhadap pendekatan salaf (Farhadi 1996).

Sejak muda, ia menunjukkan kecerdasan luar biasa dan kedalaman spiritual yang langka. Ia belajar dari berbagai ulama besar, tetapi kemudian memilih jalur tasawuf untuk memperdalam pengalaman keimanannya. Namun, jalur sufi yang ia tempuh bukanlah tasawuf spekulatif atau filosofis, melainkan tasawuf ‘amalī yang selalu berkelindan dengan al-Qur’an, hadits, dan keteladanan salaf al-ṣāliḥ.

Tasawuf Hanbali: Jalan Tengah antara Syariat dan Hakikat
Dalam dunia sufi, ‘Abdullāh al-Anṣārī dikenal sebagai penafsir ruhani dari jalan yang ditempuh oleh para salaf. Tasawufnya berakar kuat dalam kezuhudan, ikhlas, dan ketundukan total kepada Allah. Ia tidak menolak pengalaman mistik, tetapi selalu mengembalikannya kepada teks dan syariat. Sebagai sufi Hanbali, ia menghindari perdebatan filsafat dan kalām yang spekulatif, seraya menekankan pentingnya pengalaman batin yang murni dan pemurnian jiwa.

Dalam karyanya yang paling terkenal, Manāzil al-Sā’irīn, al-Anṣārī menyusun roadmap spiritual menuju Tuhan, dimulai dari tahap-tahap dasar seperti taubah dan ikhlas, hingga mencapai puncak seperti ma’rifah dan tauhid. Ia memetakan 100 maqam dalam perjalanan ruhani seorang sālik, dengan presisi dan kedalaman psikologis yang luar biasa. Dalam setiap maqām, ia menyebutkan tingkatan kesadaran dan pengendalian nafsu yang harus dilalui oleh seorang salik.

Karyanya ini kemudian disyarahkan oleh Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Madārij al-Sālikīn(Ibn Qayyim al-Jauzīyyah 2019), yang menjadi salah satu karya monumental dalam sejarah pemikiran Islam. Hal ini menunjukkan betapa pengaruh al-Anṣārī menjangkau jauh hingga ke dalam mazhab Hanbali modern dan spiritualitas salafi.

Puisi, Doa, dan Simbol
‘Abdullah Ansari tidak hanya seorang mutakallim dan sufi, tetapi juga penyair ulung. Dalam Munājāt Nāmah, ia menuangkan dialog penuh cinta antara hamba dan Tuhannya dalam bentuk doa dan puisi. Gaya bahasanya lembut, melankolis, penuh kerinduan kepada Tuhan, namun tetap bercahaya dengan ketundukan dan ketaatan. Ia memadukan antara keindahan bahasa Persia dan kedalaman Arab Qur’ānī, menjadikannya pelopor dalam literatur sufi Persia. Contoh dari Munajat yang terkenal adalah:

“Ya Allah, Engkau yang menghidupkan hati dengan cahaya, dan hanya Engkau yang dapat menyembuhkan luka batin yang tersembunyi.”

Karya-karyanya menggunakan simbolisme spiritual yang kuat. Ia sering menggambarkan Tuhan sebagai Kekasih yang jauh, dan hamba sebagai pecinta yang gundah. Namun, kerinduan ini bukan sekadar perasaan; ia merupakan ekspresi dari pengalaman ruhani yang dalam, hasil dari mujāhadah dan riyāḍah (latihan spiritual) yang ketat (Farhadi 1999).

Kritik terhadap Kalām dan Filsafat
Sebagai sufi Hanbali, sl-Anṣārī mengkritik keras pendekatan rasionalis yang berkembang dalam kalangan mutakallim dan filsuf. Ia tidak menolak akal, tetapi menolak dominasi akal atas wahyu. Baginya, kalām membawa manusia kepada perdebatan kosong, sementara tasawuf membawa hati kepada Allah.

Ia menulis dengan semangat pembelaan terhadap pendekatan salaf, menolak segala bentuk spekulasi tentang zat Tuhan, sifat-sifat-Nya, atau realitas metafisis yang tidak ditegaskan dalam al-Qur’an dan hadits. Ia menyebut para mutakallim sebagai “orang-orang yang terjebak dalam bayang-bayang akal dan meninggalkan cahaya wahyu.”

Namun, kritiknya tidak membuatnya anti-ilmu. Ia mengembangkan ilmu spiritual yang berakar dalam pengalaman dan intuisi, serta mendidik murid-muridnya dengan metode yang sistematis dan mendalam. Al-Anṣārī ingin membawa manusia kepada makrifat, bukan kepada perdebatan tentang konsep-konsep abstrak.

Pengaruh dan Penerimaan
Legacy ‘Abdullāh al-Anṣārī diakui tidak hanya dalam dunia Hanbali atau Sufi Persia, tetapi juga dalam sejarah Islam global. Salah satu pengagumnya yang terbesar adalah Ibn Qayyim al-Jauziyyah, yang menjadikan karya-karyanya sebagai sumber utama dalam Madārij al-Sālikīn. Ibn al-Qayyim bahkan menempatkan al-Anṣārī sebagai salah satu guru spiritual paling murni yang pernah ada di samping Ibn Taimiyyah (Maghribi 2024).

Di sisi lain, para ulama Persia seperti Jami dan ‘Attār memasukkan namanya dalam daftar tokoh sufi besar. Dalam dunia Sunni tradisional, ia dihormati sebagai sufi yang lurus, yang tidak menyimpang dari syariat. Dalam tradisi sufi Asia Tengah dan India, ia dipandang sebagai pelita spiritual yang menerangi jalan cinta, kerinduan dan penghambaan.

Karya-karya al-Anṣārī diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Turki, Urdu, dan Indonesia. Di pesantren dan madrasah, terutama di lingkungan yang mengintegrasikan tasawuf dan fikih, namanya selalu disebut dalam lembaran referensinya.

Jembatan Salafi-Sufi
‘Abdullāh al-Anṣārī adalah salah satu contoh bagaimana pendekatan salafi dan sufi bisa bersatu. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan kepada teks tidak berarti menolak pengalaman batin. Bahwa ketaatan kepada sunnah tidak menutup jalan cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Dalam dunia Islam kontemporer yang sering terbelah antara sufi dan salafi, warisan al-Anṣārī menawarkan jembatan kokoh yang bisa dilalui.

Tasawufnya adalah tasawuf yang rasional dan tekstual sekaligus intuitif. Ia tidak bersandar pada ilhām tanpa dalil, dan tidak pula membatasi diri hanya pada hafalan teks. Ia menjalani laku spiritual yang otentik, dengan fondasi yang kuat dalam sunnah Nabi dan pemahaman sahabat.

Penutup
Di tengah krisis spiritual dan nestapa manusia modern, di mana manusia tercerabut dari akar ruhaniahnya, warisan al-Anṣārī layak untuk diangkat kembali. Ia bukan hanya tokoh masa lalu, melainkan model spiritualitas Islam yang seimbang, mendalam, dan bermartabat. Ia mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan terbuka bagi siapa saja yang mau berjuang, dengan hati yang ikhlas, dan jiwa yang bersih. Bahwa ilmu bukanlah tujuan, melainkan kendaraan menuju makrifat. Bahwa cinta bukan sekadar emosi, tetapi laku kesetiaan dan ketundukan. Dan bahwa Tuhan tidak jauh, hanya hati kita yang sering tertutup dengan suara-suara materialisme yang semakin gemuruh. ‘Abdullāh al-Anṣārī al-Harawī adalah pelita dalam gelap, mercusuar dalam badai di lautan, dan kompas bagi mereka yang mencari wajah Tuhan dalam rimba kehidupan.

Bahan Bacaan
Al-Harawī, ‘Abd Allāh al-Anṣārī. 1988. Manāzil al-Sāirīn. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Farhadi, A G Ravan. 1996. ʿAbdullah Ansari of Herat (1006‐1089 C.E.): An Early Sufi Master. Curzon Press.
———. 1999. “The hundred grounds of ‘Abdullah Ansarī of Herat (d. 448/1056): the earliest mnemonic Sufi manual in Persian.” In The Heritage of Sufism, diedit oleh Leonard Lewisohn. Oxford: Oneworld.
Ibn Qayyim al-Jauzīyyah, Muḥammad ibn Abī Bakr. 2019. Madārij al-Sālikīn fī Manāzil al-Sā’irīn. Diedit oleh Muḥammad Ajmal Al-Iṣlāḥī. Mekkah: Dār ‘Ālam al-Fawā’id.
Maghribi, Hamdan. 2024. Tasawuf Salafi: Rekonstruksi Tasawuf Ibn Taimiyyah. Malang: Madani.

Sumber foto: Islami.co

By admintp

Laman Resmi Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *