Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya beban emosional, sosial, dan spiritual
yang dialami orang tua ketika mengasuh anak dengan Down Syndrome. Banyak orang tua
menggambarkan pengalaman awal yang dipenuhi shock, penolakan, kemarahan, rasa malu,
hingga keputusasaan. Berbagai penelitian sebelumnya telah membahas penerimaan diri,
strategi coping, resiliensi, dan dukungan sosial pada keluarga anak berkebutuhan khusus,
namun kajian tentang kesabaran sebagai pengalaman subjektif dan proses spiritual orang tua
masih jarang dieksplorasi. Padahal dalam perspektif tasawuf, khususnya menurut Hamka,
kesabaran merupakan pondasi kekuatan jiwa dan kedekatan dengan Allah, yang dapat menjadi
penopang dalam menghadapi kondisi hidup yang berat. Kekosongan inilah yang
melatarbelakangi perlunya penelitian lebih dalam mengenai dinamika kesabaran pada orang
tua anak Down Syndrome.
Penelitian ini mengkaji dinamika kesabaran pada orang tua yang memiliki anak dengan
Down Syndrome dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan analisis Interpretative
Phenomenological Analysis (IPA). Down Syndrome merupakan kondisi genetik yang sering
menimbulkan tekanan psikologis, sosial, dan spiritual bagi orang tua, terutama pada fase-fase
awal pengasuhan. Berbagai studi sebelumnya lebih menyoroti aspek coping, penerimaan diri,
dan dukungan sosial, sehingga penelitian ini berupaya mengisi kekosongan dengan
menitikberatkan pada proses sabar sebagai pengalaman batin yang kompleks dalam perspektif
tasawuf. Lima orang tua yang memiliki anak Down Syndrome di SLB Negeri Pangkalpinang
menjadi informan penelitian. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesabaran orang tua terbentuk melalui rangkaian proses
emosional, dimulai dari shock, penolakan, rasa malu, hingga kemarahan, sebelum akhirnya
berkembang menuju penerimaan dan keikhlasan. Kesabaran tidak muncul secara instan,
melainkan tumbuh melalui proses adaptasi berkelanjutan terhadap tantangan pengasuhan,
seperti tantrum, hambatan komunikasi, dan kebutuhan belajar anak yang berbeda.
Penelitian ini menemukan bahwa kesabaran orang tua bersifat multidimensional.
Secara psikologis, kesabaran muncul melalui kemampuan mengelola emosi dan menyesuaikan
ritme kehidupan sehari-hari. Secara sosial, kesabaran dipengaruhi oleh dukungan pasangan,
keluarga, sekolah, dan komunitas, yang dirumuskan sebagai konsep “ketabahan sosial”. Secara
spiritual, kesabaran diperkuat melalui praktik ibadah, doa, dan pemaknaan religius yang
konsisten, yang membentuk “ritme emosional berbasis ibadah”. Temuan ini menguatkan
konsep sabar menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, bahwa sabar adalah ketabahan
menghadapi kesulitan, ketenangan dalam ujian, serta jalan menuju ketakwaan.
Penelitian menyimpulkan bahwa kesabaran orang tua anak Down Syndrome merupakan
proses transformatif yang membentuk stabilitas emosional, menumbuhkan rasa syukur, serta
meningkatkan kualitas pengasuhan dan hubungan orang tua dan anak. Saran penelitian meliputi
perlunya pendampingan psikologis dan spiritual bagi orang tua, penguatan dukungan sosial,
serta pengembangan intervensi psikoterapi tasawuf berbasis pengembangan kesabaran.

Oleh: Hafidza Frigga Meigy

By admintp

Laman Resmi Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *