(Sidiq Rahmadi, S.Ag., M.Psi. — Dosen LB Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta)
Dalam sejarah panjang perjalanan ruhani Islam, tasawuf tidak pernah mengalami kemandegan. Ia selalu bergerak, melentur dan menyesuaikan diri dengan peradaban. Dimulai dari revolusi zuhud yang dirintis Hasan al-Bashri, menuju madzhab cinta yang dipopulerkan Rabi’ah al-Adawiyah, hingga berkembang menjadi tasawuf akhlaki, amali, falsafi, dan kini bertransformasi ke dalam corak psikologi modern. Perjalanan ini menegaskan satu hal: tasawuf bukan sekadar pelarian ke dalam sunyi, melainkan respons aktif terhadap kegelisahan zaman.
Kini, ketika manusia hidup dalam pusaran era post-truth, saat kebenaran digantikan oleh emosi dan sensasi, dan ketika media menjadi perantara panik massal, tasawuf kembali mengajak: bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk menyelami kedalaman makna. Dalam konteks ini, kita perlu menengok sosok Syekh Burhanuddin Ulakan—ulama sufi Nusantara yang memadukan antara limpahan rasa dan ketajaman rasio dalam arus tasawuf falsafi.
Mengenal Ulama dari Ulakan
Syekh Burhanuddin Ulakan yang masa kecilnya dikenal sebagai Kinun, lahir pada 17 Safar 1026 H kurang lebih 1617 Masehi. di Guguk Sikaladi Kanagarian Pariangan, Padang Panjang (Yayasan Raudhatul Hikmah, 1993). Ia tumbuh dari keluarga sederhana perantau, digembleng oleh alam dan kesunyian di padang penggembalaan antara daerah Sintuak dan Tapakis. Di sanalah ia pertama kali bersentuhan dengan Islam dan berguru kepada Syekh Abdullah Arif (Syekh Madinah), yang kemudian memberinya gelar “Pakiah Samparono” (Syahril & Marjoni, 2021). sebuah gelar yang memperkaya panggilannya: selain “Kinun”, ia juga mulai disebut “Pono”.
Namun, saat ia mulai berdakwah dan menyampaikan ajarannya, penolakan dan ancaman datang dari masyarakat sekitarnya. Dalam kegamangan itu, ia teringat pesan gurunya: untuk melanjutkan pencarian ilmu ke Aceh, berguru kepada Syekh Abdurrauf as-Singkili, seorang ulama besar Tarekat Syattariyah. Dari sang mursyid inilah ia memperoleh nama baru: Burhanuddin, sebuah nama yang kelak harum sebagai pembawa suluh spiritual Islam di Minangkabau (Syahril & Marjoni, 2021).
Di bawah bimbingan Syekh Abdurrauf as-Singkili, jalan spiritual Syekh Burhanuddin ditempa dengan ujian-ujian berat—bertapa di gua selama dua belas bulan, menyeberangi sungai tanpa perahu, dan menjaga kesucian di hadapan godaan syahwat. Dalam satu momen ekstrem, ia menghantamkan batu ke zakarnya demi menahan nafsu, sebuah tindakan simbolik yang kini dikenang sebagian sebagai manifestasi kesungguhan ruhani (Syahril & Marjoni, 2021). Atas keteguhan itu, ia diangkat menjadi Khalifah Syattariyah di Minangkabau dan terhubung dengan jejaring ulama Timur Tengah. Pada batu nisan Syekh Burhanuddin itu tercantum wafatnya tanggal 10 Syafar 1111 Hijriyah (Mulia & Akmal, 2016). Azra (1999) menyebutkan dalam penanggalan masehi tahun 1692 M. Namun jalan sunyi yang ia tapaki terus hidup dalam ziarah, tarekat, dan ingatan kolektif. Syekh Burhanuddin bukan sekadar ulama, tapi peristiwa spiritual itu sendiri—jejak perjumpaan antara rasa, akal, dan pengorbanan di hadapan Tuhan. Sebagai bentuk penghormatan atas kedalaman pemikiran, samudra rasa, dan kebesaran nama yang melekat padanya sebagai seorang sufi, masyarakat pesisir Minangkabau memperingatinya melalui upacara “Basapa” yang diselenggarakan setiap bulan Safar (Quddus, 2020).
Tasawuf Falsafi: Ruang Pertemuan Antara Rasa dan Rasio
Tasawuf falsafi bukan sekedar jalan pintas menuju Tuhan, ia adalah pendakian akal dan rasa menuju cakrawala makna. Di satu sisi, ia menuntut pengalaman dzikrullah, riyadhah, dan fana; di sisi lain, ia mensyaratkan ketajaman logika, keteraturan nalar, dan berpikir yang runtut. Bagi Syekh Burhanuddin, tasawuf bukan sekadar ekstase spiritual, tapi ikhtiar memahami realitas Ilahi dalam struktur metafisika yang utuh. Tuhan adalah satu-satunya Wujud Hakiki, sedangkan alam hanyalah bayangan yang tidak berdiri sendiri. Seperti bayangan yang hanya ada karena tubuh, demikian pula alam hanya eksis karena limpahan wujud-Nya.
Namun, bayangan itu bukan nihil. Ia adalah tajalli, pancaran cahaya dari yang Maha Ada. Dari Nur Muhammad—sebagai ciptaan pertama—mengalir realitas ke dalam bentuk arketipe (al-‘Ayan ast-Tsabitah) hingga menjelma menjadi entitas konkret (al-‘Ayan Kharijiyyah). Di sini Syekh Burhanuddin memasuki medan yang juga dijejaki oleh Ibnu Arabi, Suhrawardi, dan Ibnu Sina, tapi dengan satu penekanan: akal tak bisa berjalan sendiri. Rasio hanyalah lentera, bukan pelita hakiki. Yang menerangi jalan adalah kasyf, intuisi ruhani yang muncul setelah kehancuran ego dan penyerahan total. “Tiada kita kecuali dengan Allah, dan milik-Nya,” katanya, menegaskan posisi manusia sebagai bayangan dari bayangan.
Maka jangan keliru membaca: tasawuf bukan menyamakan hamba dengan Tuhan, tapi menyadari bahwa seluruh wujud bergantung mutlak pada-Nya. Tuhan tetap Tuhan meski Dia men-tanazzul dan hamba tetap hamba meski dia taraqqi (naik derajat ruhani). Dalam pandangan Syekh, pengenalan diri bukan untuk mengklaim ketuhanan, tapi untuk melihat kelemahan sebagai jendela menuju keagungan. Di ujungnya, ma’rifat bukan kepastian, tapi rasa kagum (Firdaus & Putra, 2015). Sebagaimana Sahal bin Abdullah menyatakan bahwa puncak ma’rifat adalah kekaguman dan keheranan saat sufi menghadapi Tuhannya, hingga melupakan dirinya sendiri. Sebab mengenal Tuhan bukan tentang tahu, tapi tentang kagum yang tak selesai. Sebagaimana dalam riwayat dalam Al-Jauziyyah (2004):
“Ketika Allah menciptakan bumi, bumi berguncang. Kemudian Dia menciptakan gunung-gunung di atasnya sehingga bumi tenang. Para malaikat kagum akan kekuatan gunung. Lalu mereka bertanya, ‘Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kuat dari gunung?’ jawab-Nya, ‘Ada. Yaitu besi.’ Mereka bertanya lagi, Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kuat dari besi?’ Dia menjawab, ‘Ada, yaitu api.’ Mereka bertanya lagi, ‘Wahai Tuhan, adakah makhluk-Mu yang lebih kuat dari api?’ jawab-Nya,’Ada, yaitu angin .’Mereka kembali bertanya, ‘Adakah makhluk-Mu yang lebih kuat dari angin?’Jawab-Nya, ‘Ada, yaitu anak Adam, bersedekah dengan tangan kanannya dan disembunyikannya dari tangan kiri”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Insan Kamil: Bayang-Bayang Terindah dari Cahaya Ilahi
Manusia bukan sekadar jasad, tapi juga wadah dari sifat-sifat Tuhan yang terpantul melalui kebersihan qalb. Inilah insan kamil, manusia yang mengenal dirinya, dan melalui dirinya mengenal Tuhannya. Dalam kerangka Syattariyah, manusia tidak hanya makhluk, tapi juga cermin. Konsep Insan Kamil merupakan puncak kesempurnaan spiritual: manusia yang memantulkan sifat-sifat Ilahi secara utuh. Tapi pencapaian ini tidak datang dari hapalan kitab atau debat wacana, melainkan dari penyucian hati (tazkiyat al-qalb) dan pembersihan jiwa (tazkiyat al-nafs). Syekh Burhanuddin menekankan tiga aspek utama Insan Kamil: 1) Pengawasan hati (muraqabah) dari segala bentuk maksiat, 2) Kesadaran akan asal-usul manusia: sebagai manifestasi dari Nur Muhammad, 3) Transformasi akhlak melalui Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.
Insan Kamil, dalam pandangan ini, adalah manusia yang tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat, melainkan sebagai alat Tuhan untuk menyatakan Diri-Nya di dunia. Sebagaimana diungkapkan oleh Nasr (1989), Manusia adalah penampung sekaligus jembatan bagi rahasia Tuhan—tempat di mana kehendak Ilahi menjelma. Dalam maqam ini, manusia menjadi pelaku ibadah yang tidak lagi berorientasi pada pahala, melainkan pada peniadaan ego (fana). Syekh Burhanuddin menekankan urgensi penyucian hati (takhalli), pengisian dengan sifat-sifat Ilahi (taḥallī), hingga penyingkapan cahaya ruhani (tajalli). Itulah sebabnya, tajallī kerap diterjemahkan sebagai teofani, yakni penampakan Ilahi. Dalam karya agungnya Gulshan-i Raz, Syekh Maḥmud Shabistari menyatakan: Ketiadaan adalah cermin, dunia adalah bayangan (dari Insan Kamil atau Manusia Universal), dan manusia adalah mata dari bayangan itu—di mana Wujud Sejati tersembunyi (Nasr, 2001).
Jalan Kepada Tuhan: Memadukan Syariat, Tarekat, dan Hakikat
Syekh Burhanuddin tidak menolak syariat; justru di sanalah ia memulai langkah menuju kedalaman. Syariat adalah gerbang, bukan tujuan. Dari sana ia meniti jalan tarekat sebagai proses pembentukan diri spiritual yang penuh kedisiplinan: zikir, riyadhah, tafakur, dan tazkiyatun nafs. Bagi beliau, makrifat tak lahir dari akal belaka, apalagi wacana kosong. Ia adalah kejernihan qalb, hasil dari kematian ego—al-mawt al-ikhtiyari—kematian yang dipilih sebelum jasad benar-benar mati. Di situlah zikir menjadi lebih dari sekadar lafaz: ia adalah nyala sunyi yang membakar kesadaran palsu, hingga hanya Tuhan yang tersisa dalam pandangan.
Peta tauhid yang diajarkan Syekh Burhanuddin bertingkat, mulai dari Tauhīd al-Uluhiyyah, Tauhid al- Sifat, Tauhid al-Dzat dan Tauhidul al-Afa’al. Pada martabat terakhir itu, Tuhan bukan lagi sekadar dikenali lewat nama dan sifat, tetapi disadari sebagai satu-satunya Wujud yang hakiki. Segala sesuatu selain-Nya—termasuk akal dan naql—menjadi tidak cukup. Sebab zat Allah, kata para sufi, tidak bisa digambarkan, tidak bisa diserupakan, dan mustahil dijangkau secara hakikat oleh yang baharu. Bahkan nama-nama-Nya sendiri tidak memiliki batas, karena ia bukan bahasa, melainkan isyarat kepada sesuatu yang tak bisa dirumuskan oleh bahasa. Maka siapa yang menyangka bisa “mengetahui” Allah sepenuhnya, sejatinya belum mulai berjalan (Amir, 2001).
Kesatuan wujud dalam pandangan tasawuf falsafi bukanlah penyatuan, tapi kesadaran akan ketergantungan mutlak. Bayangan tidak pernah menjadi tubuh, tetapi tubuh hadir melalui bayangan. Dalam kerangka ini, seluruh maujud menjadi manifestasi (tajalli) dari satu Wujud. Nur Muhammad—sebagai hakikat pertama—adalah simpul semua nama dan sifat. Ia bukan makhluk biasa, tetapi awal dari segala penampakan Ilahi. Bagi para sufi, Nabi Muhammad sebagai al-nūr al-muḥammadi adalah Logos ilahi dan benih awal penciptaan. Potensi ini tersembunyi dalam diri manusia, namun hanya mekar sempurna dalam jiwa para wali dan orang arif (Nasr, 2001).
Menurut Syekh Burhanuddin, pengalaman spiritual seorang salik (pejalan ruhani) dalam menuju makrifat berlangsung secara bertahap. Tahapan pertama disebut mukasyafah, yaitu saat tersingkapnya hakikat dan sifat-sifat batiniah secara samar. Pada tahap ini, cahaya Ilahi mulai menerangi kalbu, namun masih dibatasi oleh tirai halus, sehingga kebenaran belum sepenuhnya tampak jelas. Setelah itu, salik memasuki tahap musyahadah, yaitu penyaksian ruhani yang tidak lagi menampakkan bentuk atau sifat, melainkan disertai dengan perasaan khusus dan pemahaman halus. Jika menurut al-Harawi musyahadah adalah saat gugurnya hijab, maka Syekh Burhanuddin memandangnya sebagai tahap awal dari kedalaman penyaksian, sebelum sampai pada tingkat muʿayanah.
Tahap muʿayanah adalah saat hijab benar-benar runtuh dan pencari menyaksikan kehadiran Ilahi tanpa terikat oleh bentuk atau batas. Ia melihat Tuhan dengan mata batin yang jernih, bukan sekadar mengenal sifat-sifat-Nya, tetapi menyentuh realitas terdalam—yang disebut sebagai ‘ain al-‘ain, atau inti dari segala inti. Setelah itu, ia memasuki keadaan ḥayah, yakni hidup yang sepenuhnya dibimbing oleh pandangan Ilahi. Di sini, segala sesuatu dilihat dari sisi Allah, dan kehidupan dijalani dalam kesadaran akan kehadiran-Nya yang absolut. Namun perjalanan ruhani tidak selalu tenang; salik mengalami qabath, yaitu rasa sempit dan gundah di hati karena kejengkelan terhadap dunia dan keterikatan yang menghalangi cahaya ruhani. Sebaliknya, ia juga mengalami baṣiṭh, yaitu kelapangan hati ketika warid (pencerahan Ilahi) datang, menenangkan jiwa.
Dalam keadaan warid yang sangat kuat, salik bisa mencapai syukr, yakni syukur yang begitu dalam hingga kesadaran pancaindra seakan lenyap. Ia tenggelam dalam kehadiran Ilahi, melampaui batas-batas jasmani. Setelah itu, muncul shuḥuf, yaitu kembalinya fungsi pancaindra, namun dengan pandangan yang telah tercerahkan dan terhubung dengan makna batin. Dari sini, salik mengalami ittiṣhal, yakni keterhubungan utuh dengan Tuhan, di mana seluruh hijab telah hilang, dan penyaksian menjadi sempurna. Namun tahapan ini pun tidak menjadi akhir, sebab dalam infishal, salik melepaskan bahkan kesadaran akan keterhubungan itu sendiri. Ia tidak lagi memandang dirinya bersatu atau berpisah dengan Tuhan, tetapi hidup dalam keheningan batin yang murni. Pada titik nihayah, barulah salik mencapai makrifat sejati, yaitu mengenal Tuhan melalui pandangan langsung, bukan melalui konsep, nama, atau sifat. Ia mengenal Tuhan dengan ‘ain-nya, dan mengenal dirinya sebagai hamba dalam ketundukan dan kehadiran yang total. Dengan demikian, Syekh Burhanuddin mengajarkan bahwa perjalanan spiritual menuju makrifat adalah lintasan bertingkat yang penuh dinamika.
Mengenal Tuhan dalam kedalaman spiritual bukanlah perkara membandingkan atau mengkalkulasi-Nya dalam struktur logis. Hakikat ketuhanan tidak terletak pada bilangan atau jumlah, melainkan pada kesatuan batin yang tak terpecah dan tak terbagi. Bagi mereka yang telah sampai pada hakikat, seluruh realitas dunia ini tampak sebagai lambang-lambang dari Dzat Yang Maha Esa, yang dalam satu waktu menampakkan sekaligus menyembunyikan diri-Nya. Dalam pandangan tasawuf, puncak perjalanan bukanlah menyatu menjadi Tuhan, melainkan meleburkan ego sepenuhnya di hadapan-Nya, menyaksikan tajalli-Nya dalam setiap ciptaan, memandang yang Haq dengan mata batin yang jernih, serta menyadari secara mutlak bahwa segala daya dan kekuatan semata berasal dari limpahan rahmat dan kuasa-Nya.
Warisan dan Tantangan Kontekstual
Pemikiran tasawuf Syekh Burhanuddin Ulakan merupakan titik temu dari tiga poros penting pemikiran tasawuf di Nusantara: Wujudiyah ala Hamzah Fansuri, Wahdatuṣ‑Syuhud (syuhudiyyah) ala Nuruddin ar-Raniri, dan pendekatan moderat ala Syekh Abdurrauf al‑Singkili.
Namun dalam praktiknya, ajaran Syattariyah kerap direduksi menjadi sekadar ritual, tanpa disertai pemahaman yang mendalam. Ini menjadi tantangan hingga hari ini. Sebagian besar masyarakat Nusantara masih setia pada tradisi turun-temurun yang telah menjadi kesadaran kolektif, dan sering kali menolak pembaruan wacana. Padahal, tasawuf falsafi seperti yang diajarkan Syekh Burhanuddin justru mengajak umat untuk berpikir, bertafakur, dan menempuh jalan penyucian diri secara sadar dan reflektif.
Kembali ke Dalam, Terpancar ke Luar
Zaman kini bukan lagi zaman informasi, tapi zaman kebisingan. Kita dibanjiri data, tapi kehilangan makna. Dalam dunia yang menuhankan perasaan dan membunuh nalar, tasawuf falsafi hadir sebagai jalan tengah: ia mengajarkan refleksi, disiplin berpikir, dan kontemplasi. Ia melatih manusia untuk menunda penilaian, mencerna informasi, lalu menyaringnya melalui qalb yang bersih.
Tasawuf falsafi bukanlah jalan elitis yang hanya untuk para filsuf, juga bukan hanya untuk ahli zikir. Ia adalah jembatan antara batin dan nalar, antara cinta dan kesadaran, antara keheningan dan keberanian. Di tengah kekacauan zaman, ajaran Syekh Burhanuddin memberi kita peta: bahwa untuk mengenal Tuhan, manusia harus menyelami dirinya.
Dengan qalb yang bersih, akal yang tajam, dan zikir yang bernyawa, manusia bisa menjadi cermin cahaya Ilahi. Itulah Insan Kamil. Itulah manusia sejati. Dan itulah jalan sunyi yang pernah dilalui oleh seorang alim dari Ulakan, yang terus menyala sampai hari ini.
Referensi
Al-Jauziyyah, I. Q. (2004). Kunci Kebahagiaan. Akbar Media Eka Sarana.
Amir, A. (2001). Syeikh Burhanuddin Ulakan. Puitika.
Azra, A. (1999). Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi menuju Milenium Baru. Logos Wacana Ilmu.
Firdaus, & Putra, A. (2015). Tahqiq Naskah Syekh Burhanuddin Ulakan. IRESCD.
Mulia, W., & Akmal, A. (2016). Ornamen Makam Syekh Burhanudin Ulakan Kecamatan Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman Dalam Kajian Estetika Visual. Jurnal KOBA, 3(2), 91–102.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the Sacred. In Philosophy East and West (Vol. 43, Issue 1). State University of New York Press. https://doi.org/10.2307/1399476
Nasr, S. H. (2001). Science And Civilization In islam. ABC International Group.
Quddus, A. (2020). Akhlak tasawuf. Sanabil.
Syahril, S., & Marjoni, D. (2021). Jejak Perjuangan Syekh Burhanudin dalam Mengembangkan Ajaran Islam di Kabupaten Padang Pariaman. Tarikhuna: Journal of History and History Education, 4(1), 84–98. https://doi.org/10.15548/thje.v3i1.2947
Yayasan Raudhatul Hikmah. (1993). Petunjuk Ziarah ke Maqam Syekh Burhanuddin. Licah Stope.
