Penelitian ini mengkaji spiritualitas pada santri penghafal Al-Qur’an (tahfidz) yang berangkat dari kesenjangan fenomena: tidak semua santri mengalami peningkatan spiritualitas yang merata meskipun menjalani rutinitas hafalan yang ketat. Sebagian santri merasakan transendensi dan Makna Hidup yang mendalam, sementara sebagian lainnya hanya melihat hafalan sebagai rutinitas akademis. Kesenjangan antara rutinitas tahfidz dan penghayatan spiritual ini menggarisbawahi perlunya eksplorasi mendalam terhadap pengalaman subjektif santri dalam memaknai spiritualitas mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara komprehensif spiritualitas santri penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Hikmah Kartasura yang kental dengan ajaran Tasawuf.
Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), untuk memahami secara rinci bagaimana pengalaman hidup (menghafal Al-Qur’an) diinterpretasikan dan bermakna bagi partisipan kunci. Informan utama terdiri dari tiga santri (A, W, dan S) yang telah konsisten menghafal, didukung oleh informan significant other untuk triangulasi sumber. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Keabsahan data dalam penelitian ini dijamin melalui triangulasi sumber, triangulasi metode, dan member check, memastikan bahwa interpretasi yang disajikan merefleksikan pengalaman hidup informan yang sebenarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas transformatif santri terklasifikasi dalam tiga tema superordinat: 1) Transformasi Kesadaran Spiritual: Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup (Living Guidance), yang mencakup pergeseran fungsi Al-Qur’an menjadi sumber utama Transendensi (merasa dekat dengan Allah), Makna Hidup, dan Kontrol Emosi (Sabar & Tenang); 2) Motivasi dan Konsistensi Menghafal sebagai Perjalanan Spiritual Personal (Spiritual Pilgrimage), yang merangkum perjuangan batin (Mujahadah) dan disiplin diri sebagai proses tazkiyatunnafs; 3) Faktor Eksternal dan Internal Spiritual: Ekosistem Spiritual Komunal (ukhuwah ruhaniyyah), yang menyoroti peran sentral dukungan sosial spiritual dalam menumbuhkan Istiqamah dan Resiliensi. Implikasi kongkret penelitian ini adalah memberikan pemahaman mendalam bagi lembaga pendidikan keagamaan tentang pentingnya mengintegrasikan penghayatan makna ayat (tadabbur) ke dalam kurikulum tahfidz untuk mendorong spiritualitas yang transformatif, bukan sekadar kuantitas hafalan, sekaligus berkontribusi pada keilmuan Psikologi Tasawuf dan Psikoterapi Islam dalam memahami korelasi antara ketaatan ritual dengan kesehatan mental dan spiritual.

Red : Pipit Junia Sari_191131002
