Dalam proses ini, mujahadah di Pesantren Nururrohman juga menjadi sarana penting dalam menginternalisasi nilai-nilai akhlak utama dalam Islam. Melalui konsistensi melaksanakan amalan harian, para santri dilatih untuk menumbuhkan Siddiq (kejujuran) sebagai wujud ketulusan hati dalam beribadah dan berperilaku. Amanah (tanggung jawab) tumbuh melalui kedisiplinan mengikuti mujahadah setiap hari dan menjalankan tugas-tugas pesantren tanpa keluh kesah. Sementara itu, Fathonah (kebijaksanaan) terbentuk dari kemampuan merenungi makna ayat-ayat Al-Qur’an, shalawat, dan dzikir sehingga santri mampu bersikap lebih bijak dalam mengambil keputusan. Tabligh (konsistensi dalam kebaikan) muncul dari pembiasaan menyampaikan kebaikan dan menjalankan amalan secara istiqamah, baik dalam konteks ibadah maupun interaksi sosial.
Nilai-nilai akhlak tersebut berasal dari empat sifat utama Rasulullah SAW yang sejak lama dijadikan dasar pembinaan akhlak di pesantren. Nilai-nilai ini diharapkan tidak hanya membentuk karakter pribadi santri, tetapi juga menjadi bekal dalam kehidupan sosial mereka di luar pesantren. Dalam konteks ini, mujahadah menjadi wadah pembentukan spiritual quotient (SQ), yaitu kecerdasan yang menuntun seseorang untuk menemukan makna hidup, mengelola emosi dengan kesadaran spiritual, dan bertindak sesuai nilai-nilai Ilahiah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap empat informan yang merupakan santri aktif Pondok Pesantren Nururrohman di Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi dan eliminasi data, penyajian tema, pengumpulan data, konstruksi deskripsi struktural, deskripsi struktural, hingga sintesis data untuk memperoleh pemahaman komprehensif mengenai pengalaman para informan. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi metode, triangulasi sumber, serta member checking.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan mujahadah berperan penting dalam meningkatkan kecerdasan spiritual melalui praktik mujahadah seperti pembacaan Surat Yasin, Al-Mulk, dzikir, dan sholawat. Secara keseluruhan, kegiatan mujahadah di Pondok Pesantren Nururrohman terbukti efektif dalam membentuk kecerdasan spiritual santri, melalui penghayatan terhadap empat aspek utama, yaitu pertama Aspek ṣiddiq tercermin dalam kejujuran dan ketulusan hati santri dalam berperilaku. Kedua, amanah terlihat dari tanggung jawab dan integritas dalam menjalankan tugas. Ketiga tablīgh tampak dari kemampuan santri menyampaikan kebaikan serta memberi teladan kepada sesama; dan yang keempat faṭonah muncul dalam kecerdikan dan kebijaksanaan santri dalam mengambil keputusan. kegiatan mujahadah di Pondok Pesantren Nururrohman terbukti efektif dalam membentuk kecerdasan spiritual santri melalui penguatan empat aspek utama tersebut, sehingga melahirkan pribadi yang berakhlakul karimah, berintegritas, dan memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak pelaksanaan mujahadah tampak nyata pada perubahan perilaku dan sikap spiritual santri. Santri menjadi disiplin dalam beribadah, tenang dalam menghadapi permasalahan, serta mampu mengontrol emosi dan hawa nafsu. Selain itu, nilai-nilai spritual seperti sidiq yaitu kejujuran diri dan dalam ucapan, amanah yaitu disiplin dan tanggung jawab akan ibadah, , fathonah yaitu membedakan perilaku dan ucapan antara baik dan buruk, dan tabligh yaitu pengendalian emosi semakin tertanam dalam diri santri. Melalui proses mujahadah yang konsisten santri memperoleh ketenangan batin, kemantapan iman, dan peningkatan kualitas rohani yang mencerminkan kecerdasan spiritual dalam kehidupan sehari-hari

Red : Imam Royan Romdlon_191131025
