Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika regulasi emosi pada mahasiswa penari sufi yang tergabung dalam Komunitas Kotamasa’i UIN Raden Mas Said Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi pada mahasiswa penari sufi tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses bertahap yang melibatkan pengalaman tubuh, kesadaran emosi, serta dimensi spiritual. Praktik tari sufi menjadi ruang bagi penari untuk melepaskan ketegangan emosional yang berasal dari tekanan akademik dan non-akademik, sehingga emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, dan gelisah dapat dialami, disadari, dan diolah secara lebih adaptif.
Gerakan berputar dalam tari sufi berperan sebagai bentuk meditasi aktif yang membantu penari meningkatkan kesadaran terhadap sensasi tubuh dan kondisi batin, yang selanjutnya mendorong munculnya ketenangan serta kejernihan berpikir. Dalam proses ini, penari menjadi lebih mampu mengenali emosi yang dirasakan (emotion monitoring), memahami makna dan dampak emosi tersebut (emotion evaluating), serta secara perlahan mengubah respons emosional menjadi lebih terkendali dan konstruktif (emotion modification).
Pembahasan penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi dalam praktik tari sufi tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga bersifat holistik karena terintegrasi dengan gerak tubuh dan pengalaman spiritual. Penari sufi tidak selalu langsung mengubah emosi negatif menjadi positif, namun lebih pada memaknai emosi sebagai bagian dari proses spiritual dan perjalanan diri. Hal ini menjelaskan adanya fenomena di mana penari masih dapat mengalami dan mengekspresikan emosi negatif dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memiliki kemampuan untuk kembali pada kondisi emosional yang lebih stabil setelah melalui praktik menari dan refleksi batin. Tari sufi juga memperkuat sikap penerimaan diri yang berperan penting dalam membantu penari menghadapi tekanan hidup secara lebih tenang dan adaptif. Dengan demikian, praktik tari sufi berfungsi sebagai media pengolahan emosi yang berkelanjutan, bukan sebagai alat pengendalian emosi secara instan.
Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dinamika regulasi emosi mahasiswa penari sufi terbentuk melalui integrasi antara pelepasan ketegangan emosional, peningkatan kesadaran emosi, ketenangan batin, perubahan pemaknaan diri, serta penguatan kemampuan adaptif. Tari sufi berperan sebagai sarana spiritual dan psikologis yang membantu mahasiswa dalam mengelola emosi di tengah berbagai tuntutan peran akademik dan sosial. Oleh karena itu, tari sufi dapat dipahami sebagai praktik yang memiliki nilai terapeutik dalam mendukung regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis mahasiswa.

Red : Adistia Ayu Durotun Nasichah_201131020
