Kecemasan telah menjadi gangguan mental utama secara global menurut laporan WHO (2022). Fenomena ini dipahami secara berbeda dari berbagai perspektif. Psikologi modern mendefinisikannya sebagai gangguan dengan kekhawatiran berlebihan dan gejala somatik (APA, 2022), sementara tradisi Islam dan Tasawuf melihat akarnya pada hilangnya makna hidup, pola pikir negatif (seperti pemikiran buruk, keji, dan syirik), serta keterasingan spiritual dari Tuhan (Mubarok, 2000; Nasr, 2001; Ghazzāwī dalam Muzakkir, 2018). Kecemasan memanifestasikan diri dalam empat aspek yang saling terkait: kognitif (bias pikiran dan distorsi), emosional (rasa takut dan gelisah), fisiologis (seperti jantung berdebar dan sesak napas), serta perilaku (seperti penghindaran) (Clark & Beck, 2010). Gejala multidimensi ini nyata dialami oleh individu dalam fase emerging adulthood (usia 18-29 tahun), suatu masa transisi perkembangan yang penuh eksplorasi, ketidakpastian, dan tekanan untuk mencapai kemandirian, sehingga rentan memicu kecemasan (Arnett, 2000, 2015).
Dalam konteks Islam, jiwa atau nafs dipandang sebagai esensi mendasar manusia. Konsep ini, yang banyak dikaji oleh para ilmuwan Muslim, menekankan bahwa ketidakseimbangan dalam nafs dapat menjadi sumber gangguan baik secara mental maupun fisik (Haque, 2004; Amanah, 2024). Namun, penelitian sebelumnya tentang kecemasan lebih banyak merespons melalui pendekatan psikologi Barat seperti CBT atau konsep tasawuf umum (seperti tawakal dan zikir). Konsep pengelolaan nafs (tadbīr al-nafs) sebagai sebuah kerangka analitis filosofis-rasional yang terintegrasi belum banyak dieksplorasi. Padahal, data awal penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun individu telah berupaya mengelola diri, mereka masih mengalami kesulitan dalam menangani kecemasannya secara optimal. Kesenjangan inilah yang coba diisi oleh penelitian ini dengan mengangkat pemikiran Abū ‘Alī al-Husain bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Ibn Sina/Avicenna), seorang filsuf dan dokter Muslim legendaris.
Ibn Sina menawarkan pandangan holistik tentang manusia. Ia membagi nafs ke dalam tiga tingkatan hierarkis-fungsional: (1)Nafs Nabati (jiwa vegetatif), mengatur fungsi biologis dasar; (2) Nafs Hayawani (jiwa hewani), sumber emosi, persepsi indrawi, dan dorongan; serta (3) Nafs Insani (jiwa insani/rasional), yang merupakan kekhasan manusia berupa kemampuan berpikir abstrak, bernalar, dan merenung. Gangguan kecemasan, dalam perspektif ini, dapat dipahami sebagai kondisi di mana Nafs Hayawani (dengan emosi dan sensasi fisiknya) mendominasi dan tidak terkendali, sementara Nafs Insani tidak berperan optimal sebagai pengelola. Kunci untuk mengatasi hal ini terletak pada pengelolaan nafs (tadbīr al-nafs), yang diawali dengan kesadaran diri (al-shu’ūr bi al-dhāt)—sebuah kesadaran eksistensial akan diri dan kondisinya. Proses pengelolaan ini kemudian diaktualisasikan melalui perkembangan akal berpikir yang juga diklasifikasikan Ibn Sina menjadi beberapa tingkat: mulai dari Akal Potensial (al-‘Aql al-hayulani), Akal Esensial (al-‘Aql bi al-Malakah), hingga Akal Aktual (al-‘Aql bi al-Fi’l) yang mampu melakukan kontemplasi dan pemaknaan mendalam.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dirumuskan untuk menjawab tiga pertanyaan utama: (1) Apa saja faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pengelolaan nafs? (2) Bagaimana konsep nafs menurut perspektif Ibn Sina? dan (3) Bagaimana relevansi konsep pengelolaan nafs Ibn Sina terhadap gangguan kecemasan pada fase emerging adulthood? Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pengelolaan nafs, mendeskripsikan konsep nafs Ibn Sina secara komprehensif, dan menganalisis relevansi serta aplikasi konsep tersebut dalam konteks kecemasan di fase emerging adulthood. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat teoritis berupa kontribusi keilmuan integratif antara psikologi dan filsafat Islam, serta manfaat praktis berupa wawasan dan rekomendasi bagi individu muda dalam mengelola kecemasan melalui pendekatan pengelolaan diri yang berbasis pada konsep nafs.
Kerangka berpikir penelitian ini menyatakan bahwa pengelolaan gangguan kecemasan pada dasarnya adalah proses mengalihkan dominasi dari Nafs Hayawani ke Nafs Insani. Proses ini direpresentasikan melalui tahapan kerja akal berpikir menurut Ibn Sina. Tahap pertama (Akal Potensial) adalah munculnya kesadaran awal individu akan berbagai gejala kecemasan yang dialaminya, baik fisik, emosional, maupun kognitif. Tahap kedua (Akal Esensial), individu mulai mengidentifikasi penyebab, menganalisis pengalaman masa lalu, dan merumuskan strategi regulasi diri berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Tahap ketiga (Akal Aktual) adalah puncaknya, di mana individu secara sadar menerapkan strategi, merefleksikan makna dari pengalamannya, dan melakukan rekonstruksi kognitif-spiritual untuk mencapai keseimbangan jiwa. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya melihat kecemasan sebagai patologi untuk dihilangkan, tetapi juga sebagai dinamika jiwa yang memerlukan pengelolaan sadar dan terarah menuju kesempurnaan insani.
- Dokumentasi Penelitian

Gambar diatas, merupakan salah satu dokumentasi yang dimiliki dalam penelitian ini. Sebuah screenshot insight’s quote informan yang berguna untuk memberikan kekuatan serta dorongan dalam dirinya supaya selalu bertahan dan berupaya mencari upaya solusi dalam menanggapi kondisi yang dialami. Hal ini, berkaitan dengan tahapan mencari pengetahuan atau, upaya mengisi ruang kosong (Akal Potensial) dalam akal supaya dapat digunakan dalam bernalar juga merenung/ berpikir (Akal Esensial), sehingga dapat tercipta sebuah tindakan yang tepat berdasarkan rasional (Akal Aktif).
- Dokumentasi Sidang Munaqosah
Red & Doc : Salma Humna Mas’udah_211131016
