Surakarta, 5 Juni 2025 – BEM Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi menyelenggarakan Lomba Cipta Karya Puisi dengan tema “Perjalanan Diri Menyembuhkan Luka Batin” sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas mahasiswa dan masyarakat umum dalam bidang seni literasi. Kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan ruang ekspresi sekaligus mengangkat nilai-nilai psikologis dan spiritual dalam proses pemulihan batin.Seluruh karya peserta akan dipublikasikan melalui media sosial serta majalah dinding Fakultas Psikologi sebagai bentuk penghargaan terhadap upaya penyadaran kolektif mengenai pentingnya pemulihan luka batin secara mendalam dan personal.Dari berbagai naskah puisi yang masuk, dewan juri menetapkan tiga juara utama sebagai berikut:Juara 1: Azizah Rosi Mahdiyah dengan puisi berjudul “Meniti Arti dalam Proses Penyembuhan”Juara 2: Dicka Rahma Dwi Saputra dengan puisi berjudul “Perjamuan Sunyi di Dalam Diri”Juara 3: Kristina Damai Angreini dengan puisi berjudul “Tarian untuk Parade Kesedihan”Salah satu karya yang menarik perhatian juri adalah puisi “Perjamuan Sunyi di Dalam Diri” karya Dicka Rahma Dwi Saputra. Puisi ini menggambarkan perjalanan psikospiritual seseorang dalam menghadapi dan menyembuhkan luka batin melalui tahapan kesadaran, penerimaan, pengampunan, hingga pertumbuhan diri.Karya tersebut memiliki kedalaman makna yang paralel dengan perspektif spiritual Islam, khususnya QS. Asy-Syarh [94]:5–6:“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”Ayat ini memperkuat gagasan bahwa luka bukan akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju proses penyembuhan dan pemaknaan hidup yang lebih dalam.Lebih lanjut, dalam dimensi psikoterapi, puisi ini juga merefleksikan pemikiran Carl Rogers mengenai self-acceptance dan unconditional positive regard, yaitu penerimaan total terhadap diri sendiri sebagai langkah penting dalam proses pertumbuhan psikologis. Di sisi lain, tokoh dalam puisi ini membangun kembali identitasnya dari “puing-puing hari”, menjadikan luka sebagai fondasi pertumbuhan, bukan sekadar penderitaan.Hal ini sejalan dengan gagasan Viktor Frankl, psikiater eksistensial, yang menyatakan bahwa penderitaan akan bermakna ketika seseorang mampu memberinya arti. Dalam puisinya, Dicka menulis:“Rumahku adalah aku yang mau bertumbuh”,yang menunjukkan bahwa penyembuhan bukan hanya proses medis atau psikologis, tetapi juga perjalanan spiritual dan eksistensial. Dengan demikian, puisi ini tidak sekadar berfungsi sebagai karya estetis, melainkan juga sebagai refleksi spiritual dan psikologis tentang bagaimana manusia bisa bertahan, berdamai, dan bertumbuh dengan luka sebagai guru dan Tuhan sebagai cahaya penyembuh.
